Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

keterangan

Efran, Calonkan Diri Ketua IWO Sumsel, Pilih Saya Karena Allah

Kamis, 25 Mei 2023 | Mei 25, 2023 WIB Last Updated 2023-05-26T02:21:58Z


 

Sumaterannews.com -Palembang   Ini bukan kalimat asmara, antara pria ke wanita, yang sedang memutuskan, apakah akan melanjutkan jenjang pernikahan atau tidak. Bukan pula syair lagu “Berjanjilah” Itje Trisnawati di era 90-an karya Mochtar B.  


Tapi ini terucap dari lisan Efran, Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yang sedang mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat Ketua IWO Sumsel. 


“Pilih Saya karena Allah. Bukan karena gagasan saya. Bukan karena visi dan misi saya. Kalau visi dan misi bisa dibuat kapan dan oleh siapa saja. Tapi pilih saya karena Allah,” ujarnya.


Pernyataan Efran ini, menurutnya bukan tanpa risiko. Sebab, ujaran ini menurut mantan Direktur PALI Radio ini sangat berdampak pada moralitas dan integirtas dirinya ketika kelak akan memegang tampuk kepemimpinan IWO Sumsel periode 2022-2027.


“Benar. Kalimat saya ini ada risiko dan konsekeuensinya. Artinya, kalau saya berani mengatakan ; pilih saya karena Allah, berarti saya juga harus membangun akhlaq dan adab diri saya terlebih dulu dalam menjalani profesi saya, yang harus sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya, baru kemudian, saya harus menjalankan program IWO Sumsel ke depan yang sesuai dengan apa yang saya ucapkan itu,” ujarnya saat dijumpai usai jumpa pers, belum lama ini.


Ketika ditanya langkah penting yang strategis untuk mewujudkan IWO Sumsel, berakhlaq dan beradab sesuai tagline yang tertera dalam flyer, Efran menegaskan, selama ini pendidikan moral yang berbasis teknis sudah dilakukan. 


Melalui penjelasan Kode Etik Wartawan (KEW), sudah lebih dari cukup untuk membuat moralitas wartawan menjadi baik. “Tapi ini bagi wartawan yang memegang kode etik dengan konsekuen dan bertanggungjawab. Kalau bagi yang tidak, ya silakan saja dilihat sendiri di lapangan,” ujarnya.


Namun, pendidikan moral wartawan yang berbasis ibadah (vertikal), menurut owner media online  nyaris terabaikan. 


“Secara pribadi, mungkin sudah dilakukan oleh setiap wartawan untuk melakukan ibadah ritual. Tapi itu kan personal. Sementara lembaga sekelas IWO juga bertanggungjawab terhadap pendidikan moralitas dan integritas wartawan yang berbasis ibadah atau berbasis religius. Saya pikir ini yang uga penting dimaksimalkan ke dapan,” tegasnya.


Oleh sebab itu menurut Efran, pendidikan ideologi pers dalam internal institusi pers secara kelembagaan dan personal, bukan hanya berkutat pada pendidikan moral wartawan dalam hal teknis menulis berita saja, tetapi lebih penting dari itu, pendidikan moralitas berbasis religius juga harus menjadi perhatian serius.


“Oleh sebab itu, IWO Sumsel di masa mendatang harus ada pendidikan moral secara intensif terhadap wartawan yang berbasis religius, sesuai dengan agamanya masing-masing. Tujuannya, agar hati wartawan juga bermoral, dan kelak akan mampu mewujudkan wartawan profesional yang tetap menjaga integritasnya, dunia dan akhirat, dan profesi wartawan tetap bermartabat di mata publik” tegasnya.


Efran menambahkan, rencara program ini sekaligus untuk memangkas sejumlah pendapat yang menilai, bila sebuah media tidak terverifikasi Dewan Pers dan wartawannya tidak bersertifikat, dianggap sejumlah pihak, media tersebut abal-abal, wartwannya tidak profesional dan integritasnya dipertanyakan. 


“Menurut saya, penilaian ini kurang tepat. Mungkin ada benarnya, tapi tidak selalu begitu. Tidak bisa dipukul rata,” tegasnya.


Sebab, wartawan yang lulus sertifikasi dan medianya terverifikasi Dewan Pers, hal itu sebatas adminsitratif-legal formal, bukan ukuran moralitas, terlebih akhlak dan adab wartawan dan institusi media. 


“Pertanyaan saya, apakah wartawan bersertifikasi sudah dijamin akan berakhlak dan beradab dalam menjalankan profesinya? Sama halnya begini. Ini permisalan saja, apakah orang yang mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi), sudah dijamin tidak akan melanggar lalu lintas? Tidak juga kan? Itu yang saya sebut sebatas adminsitraif legal dan formal, bukan ukuran moralitas, semua tergantung manusianya,” tambahnya

×
Berita Terbaru Update