Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

keterangan

Upaya Memajuan Kebudayaan Palembang* Oleh Kemas Idham Abubakar, SP Sekretaris II KKP periode 2024 sd 2029

Selasa, 11 Agustus 2026 | Agustus 11, 2026 WIB Last Updated 2026-08-11T13:22:12Z



Sumaterannewss. Com, Palembang memiliki kekayaan tradisi budaya yang berakar dari masa peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Beragam tradisi tersebut mencakup adat istiadat pernikahan unik seperti Munggah, budaya kuliner Kambangan, ngidang dan ngobeng, hingga tradisi perayaan hari raya seperti Sanjo.Tradisi Kuliner dan Makan ngidang: Tradisi Warisan Budaya Ngidang makan bersama secara duduk bersila dalam kelompok (biasanya delapan orang per hidangan) dengan menu khas seperti nasi minyak, malbi, dan pulur.Bertatib Saman, Sedekah Ruwah: Tradisi doa bersama dan berbagi sedekah dengan tetangga untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.Adat Perkawinan dan Perayaan Munggah: Puncak acara pernikahan adat ketika pengantin pria mendatangi rumah pengantin wanita, diwarnai prosesi gendong anak dan suap-suapan.Sanjo: Kegiatan saling berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga pada hari pertama atau hari-hari berikutnya saat hari raya Idul Fitri.Nyebar Udik-udik: Tradisi menyebar beras kuning bercampur uang koin kepada para tamu sebagai simbol doa agar limpahan berkah dan kesejahteraan menyertai kedua mempelai dan beberapa tradisi lainnya.Kesenian dan KerajinanTari Gending Sriwijaya: Tarian kolosal anggun yang biasa dibawakan untuk menyambut tamu agung.Kain Songket Palembang: Kain tenun tradisional Songket Palembang bermotif benang emas atau perak yang melambangkan kemakmuran dan keagungan budaya lokal.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, terdapat 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Indonesia, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.Rincian 10 Objek Pemajuan Kebudayaan

1.Tradisi lisan: Tuturan yang diwariskan turun-temurun seperti pantun, cerita rakyat, dongeng, dan sejarah lisan.Syair-syair Kesultanan 

2.Manuskrip: Naskah kuno beraksara yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan catatan lokal.

3.Adat istiadat: Kebiasaan atau pola perilaku masyarakat yang didasarkan pada nilai tertentu secara turun-temurun.Munggah: Tradisi puncak pernikahan adat yang sakral.

Aesan Gede: Pakaian adat mewah warna merah dan emas untuk pengantin.

Pempek: Makanan ikonik berbahan dasar ikan dan sagu dengan kuah cuko.

Tekwan dan Model: Sup ikan berkuah udang segar dengan pelengkap sedap.

4.Ritus: Tata cara pelaksanaan upacara atau kegiatan keagamaan/tradisi yang dilakukan secara berkala.

Tradisi Marhabah, Tradisi Membaca al-Barzanzi,Tradisi Ratib Saman, Tradisi Nisfuh Syakban  dan Adat Ruwahan (Sedekah Ruwah) 

5.Pengetahuan tradisional: Seluruh gagasan dan ide dalam masyarakat yang berakar dari pengalaman interaksi dengan alam.

6.Teknologi tradisional: Cara, sarana, atau hasil produksi keterampilan masyarakat dalam mempertahankan kelangsungan hidup.

Kain Songket: Kain tenun tradisional berlapis benang emas.

Rumah Limasan: Rumah panggung kayu khas dengan atap bentuk limas.

7.Seni: Segala bentuk ekspresi artistik baik yang berbasis tradisi maupun kreasi baru.Tari Gending Sriwijaya: Tarian penyambutan tamu agung yang anggun.

8 Bahasa: Sistem komunikasi lisan maupun tulisan yang dipakai dan dilestarikan oleh masyarakat.

Di Palembang ada Baso Palembang Alus dan Baso palembang sehari hari

9.Permainan rakyat: Ragam permainan hiburan tradisional yang sarat akan unsur kegembiraan dan kebersamaan lokal.

10.Olahraga tradisional: Aktivitas fisik dan gerak raga berakar budaya lokal yang mengandung nilai sportivitas serta tradisi leluhur.

Di Palembang ada Pencak Silat

Budaya Palembang adalah hasil perpaduan sejarah panjang Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, dan pengaruh Islam serta Cina. Ciri khas utamanya meliputi pakaian adat Aesan Gede, kain Kain Songket bermotif emas, rumah tradisional Limasan, serta bahasa lokal 

Perlu kita ketahui bersama beberapa warisan yang harus kita lestarikan, yaitu :

Warisan Budaya Benda

Antara lain:

1. Benteng Kuto Besak (Tahun 2017 diajukan menjadi Cagar Budaya Nasional namun gagal, sedangkan dua objek Cagar Budaya Candi Bumi Ayu, dan Goa Harimau berhasil.)  

2. Masjid Agung Palembang

3. Komplek Pemakaman Sabo Ing Kingking 

4. Komplek Pemakanan Cinde Welan 

5. Komplek Pemakaman Kawah Tekurep 

6. Bentuk Rumah Limas 

7. Rumah Rakit 

8. Bidar 

Warisan Tak Benda diantaranya

1. Songket (WBTb Indonesia)

2. Pempek (WBTb Indonesia)

3. Teater Dulmuluk (WBTb Indonesia)

4. Rumah Limas (WBTb Indonesia)

5. Teknik Lak (WBTb Indonesia) 

6. Baso Palembang  (2026)

Kebudayaan Palembang lainnya yaitu:

1. Wayang Kulit Palembang 

2. Sastra Tutur (Ande-ande, Pantun Palembang,Cangkriman, Nenggung)  

3. Syair-syair Kesultanan 

4. Ukiran Palembang

5. Adat Pernikahan (dari proses awal-madik hingga akhir-beratib saman)

6. Adat Likuran pada bulan Ramadhan 

7. Adat Rebo Kasan (Rebo Akhir Safar) 

8. Adat Rumpak-rumpak di saat lebaran 

9. Musik Terbangan Syarof al-anam 

10. Tradisi Marhabah 

11. Tradisi Membaca al-Barzanzi 

12. Tradisi Pencak Palembang (Betanggem)

13. Tradisi Ratib Saman 

14. Tradisi Nisfuh Syakban 

15. Adat Ruwahan (Sedekah Ruwah) 

16. Lumban Bidar / Kenceran 

17. Aksara Melayu (Arab Gundul), Akasara Ulu/Kaganga, 

18. Busana Adat (aesan gede, selendang mantri, baju kurung, baju Belah Bolo (Teluk Belango), sewet blongsong, sewet gebeng, sewet tajung) 

19. Gelar-gelar adat Palembang 

20. Tanjak Batik,  21. Keris Palembang



Memajukan kebudayaan Palembang dapat dilakukan diantaranya yaitu:

1.Membuat Perda Pemajuan Kebudayaan Kota Palembang, 

2.Pelestarian tradisi lokal, penguatan peran sanggar seni, pemanfaatan media digital untuk promosi, serta dukungan pada event pariwisata dan budaya daerah seperti pemilihan Duta Budaya Cek Bagus Cek Ayu.Langkah Nyata Memajukan Kebudayaan Palembang Pelestarian Kesenian Tradisional:Mengaktifkan sanggar tari untuk melatih generasi muda membawakan Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tanggai.

3.Menghidupkan kembali tradisi luhur masyarakat seperti upacara adat Ngobeng, Sedekah Rame, dan Bekarang Iwak.

4.Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Kriya:Memakai dan memproduksi kain khas Palembang seperti kain jumputan dan songket dalam berbagai acara formal maupun sehari-hari.

5.Mengembangkan seni ukir kayu khas Palembang pada perabot dan suvenir modern agar bernilai ekonomis tinggi.

6.Optimalisasi Peran Generasi Muda dan Digitalisasi:

7.Mendukung upaya melestarikan bahasa daerah melalui Mata Pelajaran Muatan Lokal Baso Palembang untuk Siswa SD kelas 3,4,5 dan 6 dan Siswa SMP kelas 7,8 dan 9 yang telah dukung Pemerintah Kota Palembang sejak tahun 2023 melalui Perwali No.39 Tahun 2023

8.Mengadakan festival budaya dan pertunjukan seni di ruang publik terbuka.Memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan sejarah, bahasa, kuliner, dan kearifan lokal Palembang ke ruang publik yang lebih luas seperti Festival Palembang Darussalam, Festival Sriwijaya, Festival Kuliner dan lain lain.

9.Sinergi Pemerintah dan Komunitas:Mendukung program kerja dari Dinas Kebudayaan Kota Palembang serta melibatkan duta wisata dan budaya dalam mengampanyekan warisan lokal serta Komunitas dan Organisasi yang konsen dibidang kebudayaan.

Walikota harus bisa mewujudkan Palembang sebagai kota budaya. Dalam hal ini pembangunan tidak boleh mengabaikan nilai-nilai budaya asli Kesultanan Palembang Darusalam. Nilai-nilai budaya harus terus dilestarikan, contoh telah dibuat dalam bentuk kegiatan Festival oleh Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) yang tahun 2026 sudah masuk tahun ke 22. Secara moral budaya Kesultanan Palembang seharusnya Walikota Palembang mensuport dengan mengalokasi dana APBD Kota Palembang setiap tahun.


* Data dari berbagai sumber

×
Berita Terbaru Update