PALEMBANG- Sunaterannewss. Com
Di tengah tantangan krisis iklim dan urgensi pembangunan berkelanjutan yang diusung dalam Asta Cita, profil pemimpin dengan keberpihakan pada tata ruang menjadi krusial. Nama Ir. H. Eddy Santana Putra, MT kini muncul dalam diskursus kabinet 2026, membawa preseden pengelolaan kota yang pernah diakuinya di Sumatera Selatan.
Selama satu dekade memimpin Palembang, Eddy dikenal melalui pendekatannya yang mengedepankan sanitasi dan tata kelola lingkungan. Konsistensi perolehan Penghargaan Adipura saat itu dipandang sebagai titik balik Palembang dari kota yang sarat tantangan urban menjadi kota yang lebih manusiawi dan terstruktur.
Dalam perspektif pembangunan hijau, pengalaman seorang teknokrat yang memahami seluk-beluk infrastruktur (MT) sekaligus regulasi (DPR RI) sangat dibutuhkan untuk menjembatani ambisi ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Kepemimpinan Eddy di masa lalu menunjukkan bahwa ketegasan eksekutif dapat beriringan dengan pembenahan ruang publik.
Selain aspek lingkungan, keterlibatannya dalam organisasi besar seperti FKPPI menunjukkan kapasitas dalam mengelola dialog kebangsaan—sebuah komponen penting dalam resolusi konflik agraria atau sosial yang sering muncul dalam proyek strategis nasional.
Bagi publik pemantau kebijakan, kehadiran figur yang telah membuktikan kemampuan "eksekusi lapangan" dalam memperbaiki kualitas hidup warga kota menjadi harapan baru agar kabinet mendatang tidak terjebak dalam retorika pembangunan, melainkan pada hasil nyata yang berkelanjutan bagi ekosistem dan masyarakat.
Oleh: Susiani, S.Pd., M.Si

